Kamis, 24 Oktober 2019

Persistensi Gigi


BAB I
PENDAHULUAN

Gamabar 1 : Gigi persistensi

                      A.    Latar Belakang

Kesehatan gigi dan mulut di Indonesia sering kali menjadi prioritas yang kesekian bagi sebagian orang. Padahal sudah diketahui gigi dan mulut merupakan pintu gerbang masuknya kuman dan bakteri sehingga dapat menganggu kesehatan organ tubuh lainnya. Masalah gigi berlubang masih banyak di keluhkan baik oleh anak-anak maupun orang dewasa hal tersebut tidak bisa dibiarkan hingga parah karena dapat mempengaruhi kualitas hidup masyarakat Indonesia . Apabila sudah mengalami masalah gigi dan mulut sesorang akan mengalami rasa sakit, ketidak nyamanan, infeksi akut, gangguan makan dan tidur serta memiliki resiko tinggi untuk dirawat di rumah sakit.
Persistensi gigi merupakan salah satu permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang perlu di atasi. Dimana gigi sulung yang menjadi panduan tumbuhnya gigi permanen tidak tanggal sesuai waktunya, sedangkan gigi penggantinya telah erupsi. Persistensi adalah keadaan dimana gigi tetap muncul sementara gigi susu masih ada dan tidak goyang sama sekali, yang disebabkan benih gigi tetap tidak terletak persis dibawah gigi susu yang digantikannya melainkan terletak didepan atau dibelakang gigi susu, sehingga bisa timbul variasi. Penyebab persistensi yaitu lambatnya resorpsi akar gigi susu dan posisi abnormal benih gigi permanen serta gangguan nutrisi .
Usaha kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh, dan berkembang secara harmonis dan setinggi-tingginya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, yang diselenggarakan melalui sekolah formal maupun informal atau melalui lembaga pendidikan lain (Kemenkes, 2010).
Penduduk yang mengalami masalah gigi dan mulut semakin meningkat di Indonesia. Berdasarkan hasil Data Riset Kesehatan dasar tahun 2013 di dapatkan hasil 25,9% masayarakat di Indonesia mengalami masalah gigi dan mulut. Kemudian Data Riskesdas terbaru tahun 2019 di dapatkan hasil masyarakat yang mengalami masalah gigi dan mulut sebanyak 57,6%. Hal tersebut menunjukan terjadinya peningkatan sebesar 31,7% dari pada sebelumnya. Peningkatan masalah gigi dan mulut yang serupa juga terjadi di provinsi lampung berdasarkan data Riskesdas 2013 di dapatkan hasil masayarakat yang mengalami masalah gigi dan mulut sebesar 15.3% meningkat menjadi 56,1 % berdasrkan data Data Riskesdas tahun 2019 Hal tersebut menunjukan terjadi peningkatan sebesar 40,8% lebih besar dari peningkatan nasional.


      B .     Tujuan
Untuk mengetahui permasalahan kesehatan gigi dan mulut khususnya kasus persistensi

C.    Manfaat
1.      Mencegah kemunculan masalah kesehatan gigi dan mulut di daerah kerja Pukesmas
2.      Salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas matakuliah epidemiologi

BAB III
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Persistensi

Permasalahan Kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas sangat beranaeka ragam pencabutan gigi sulung merupakan tindakan yang umum dilakukan di poli gigi. Terdapat banyak penyebab dilakukannya pencabutan gigi seperti  adanya gigi persistensi, gigi yang tidak tanggal padahal telah waktunya tanggal dan menunjukkan resorpsi akar yang tidak cukup untuk terjadinya proses tanggalnya gigi, hipodonsia, dan trauma yang terus menerus terjadi atau infeksi berat pada gigi sulung adalah merupakan penyebab-penyebab lain dilakukannya pencabutan gigi sulung. Persistensi gigi merupakan masalah yang sekarang cukup sering ditemui, terutama di usia ketika anak duduk di bangku sekolah dasar. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi orang tua karena jika dibiarkan dapat menjadi penyebab gigi berjejal, di mana gigi tetap akan tumbuh di tempat yang tidak seharusnya, bisa di depan atau di belakang gigi susunya.



C.    Pertumbuhan Gigi Desudui dan Permanen

Pertumbuhan Gigi Desidui dan Permanen Pertumbuhan gigi geligi berhubungan sangat erat dengan proses erupsi gigi. Maury Massler dan Schour (cit. Marwah N) mendefinisikan erupsi gigi sebagai suatu proses gigi yang telah terbentuk bermigrasi dari lokasi intraoseous ke posisi fungsional di rongga mulut. Pergerakan erupsi gigi dimulai sejak pembentukan akar sebelum gigi dapat terlihat di rongga mulut. Pergerakan selama erupsi gigi dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase pra-erupsi, fase erupsi (fase pra-fungsional), dan fase post-erupsi (fase fungsional). Perkembangan gigi dibagi menjadi empat periode yaitu masa tak bergigi (edentulus), masa gigi desidui, masa gigi bercampur, dan masa gigi permanen. Masa tak bergigi (edentulus) dimulai sejak lahir hingga gigi pertama anak tumbuh, kurang lebih hingga anak berusia enam bulan. Masa gigi desidui dimulai sejak erupsi gigi insisivus sentralis mandibula. Masa gigi bercampur dimulai sejak erupsi gigi molar satu permanen, biasanya saat anak berusia 6-7 tahun (Tabel 1). Masa gigi permanen yaitu saat semua gigi desidui telah tanggal dan digantikan oleh gigi permanen biasanya dimulai pada usia 13 tahun.



                                          Gambar 2 : pertumbuhan  gigi


D.    Pencegahan Persistensi Gigi

Usia yang sangat rentan terhadap kesehatan gigi dan mulut adalah anak SD yaitu pada usia 5-9 tahun, oleh karena itu orang tua perlu tahu pendidikan kesehatan gigi dan mulut. Orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak, khususnya masalah pertumbuhan dan perkembangan gigi anak, agar anak terhindar dari penyakit gigi dan mulut, misalnya karang gigi, karies gigi, dan radang gusi. Gigi pertama biasanya muncul sekitar 6 tahun, oleh karena itu paling baik jika gigi susu sudah tanggal (copot dari gigi) ketika gigi tetap penggantinya sudah teraba atau terlihat dan peran aktif orang tua sangat dibutuhkan dalam perawatan gigi anak.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, manfaat yang didapat adalah terjadinya perubahan perilaku seseorang dalam bidang kesehatan gigi dan mulut. Perilaku kesehatan yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atas kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan, memilih makanan dan sebagainya .
 Orangtua yang mengetahui priode pertumbuhan gigi-geligi baik gigi susu maupun gigi tetap akan sangat membantu. Bukan hanya dalam segi perawatan dalam menjaga kebersihannya, tetapi juga mencegah agar anak-anak tidak melakukan kebiasaan buruk. Apabila anak-anak suatu keluarga sehat, tentu karena orang tua tersebut dapat memperhatikan dengan sungguh-sungguh kesehatan anakanaknya. Umumnya sanak lebih banyak menjadi urussan ibu, maka baik buruk anak tercermin dari sikap ibu terhadap anak tersebut.
 Orang tua sering menganggap gingsul sebagai sesuatu yang mengganggu, sehingga memutuskan untuk mencabutnya, padahal taring merupakan sudut estetik wajah seseorang karena taring memiliki akar paling panjang, sehingga kalau dicabut, tulang wajah akan berubah karena kempot, sehingga sering jadi kelihatan lebih tua, dan jika ingin diperbaiki yang dicabut biasanya geraham kecil, bukan taring.
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi, pencegahan penyakit gigi adalah bagian dari usaha kesehatan anak usia dini dan dapat dipandang sebagai integral dari upaya kesehatan masyarakat. Pendidikan kesehatan dilakukan oleh keluarga, khususnya orang tua. Salah satu cara untuk mencegah persistensi adalah dengan meningkatkanpengetahuan orang tua anak mengenai waktu pertumbuhan gigi tetap.

E.     Pengobatan Atau Tindakan dalam Menangani Persistensi

Keberadaan gigi geligi di rongga mulut tidak dapat diabaikan, hal ini karena gigi tidak hanya berfungsi untuk estetis namun juga penting untuk fungsi mastikasi dan bicara. Berbagai hal yang dapat menjadi penyebab gigi desidui dan permanen perlu dicabut, bahkan gigi yang normal juga perlu dilakukan pencabutan untuk memperbaiki maloklusi. Salah satu penyebab gigi termasuk dalam indikasi dicabut adalah persistesi gigi.
Persistensi merupakan keadaan gigi desidui yang mengalami keterlambatan tanggal dari waktu sebenarnya, dengan gigi desidui yang masih berada dalam rongga mulut, sementara gigi penggantinya sudah erupsi. Keadaan tersebut dapat disebabkan oleh gigi permanen yang tumbuh pada posisi yang salah sehingga tidak menyebabkan gigi desidui mengalami resorbsi. Penanganan dini dari kasus ini dapat mencegah terjadinya ganggunan posisi gigi permanen penggantinya. Masalah lain yang dapat muncul pada gigi persistensi yaitu posisi gigi desidui dan permanen penggantinya yang sangat rapat bahkan terkadang tidak terdapat gingiva diantara kedua gigi tersebut. Keadaan ini dapat menimbulkan retensi debris dan bakteri mudah menginfeksi jaringan periodontal. Pencabutan gigi persistensi yang dilakukan sejak gigi permanen baru menembus gingiva dapat membantu gigi permanen erupsi ke arah posisi yang benar sehingga dapat menghindari kebutuhan akan perawatan ortodonti.                      
Tahapan Pencabutan Gigi Suluang
Pencabutan gigi sulung adalah pencabutan gigi sulung yang sudah terekfolusi atau goyang fisiologi derajat 2 atau lebih, persistensi, dan sisa akar.
Alat dan Bahan
1.      Alat tulis 
2.      Lembar rekam medis
3.      Alat Oral Diasnotik : Sonde, pinset,eksavator
4.      Tang cabut,bein
5.      Tampon, Povidon iodine, kloretile/spuit 3 cc beserta ampul lidokain
6.      Handscoon, masker
7.      Gelas kumur
8.      Tisu

Prosedur
1.      Menjelaskan prosedur kepada pasien/orang tua pasien
2.      Mengisi lembar informed consent, dan meminta tanda tangan orang tua/wali yang mengantar
3.      Mengatur posisi pasien dan posisis oprator menyesuaikan
4.      Mencuci tangan dengan sabun
5.      Melakukan anastesi pada daerah gigi yang akan dicabut
6.      Pelaksanaan pencabutan dimulai bila sudah tercapai kondisi teranastesi. Pada gigi sulung yang telah mengalami mobility derajat ≥2, anastesi mengunakan kloretil dengan cara disemprotkan ke kapas kemudian di tempelkan kegusi pada gigi yang kan dicabut.
7.      Buka soket gigi menggunakan bein (jika diperlukan)
8.      Posisikan tang ekstraksi sejauh mungkin ke dalam soket,  paruhtang sejajajr dengan sumbu gigi
9.      Gerakan untuk pencabutan gigi sulung  anterior adalah luksasi perlahan ke dalam kearah  labio-palatal atau labio lingual, diikuti dengan gerakan rotasi dan ekstraksi.
10.  Gerakan untuk pencabutan gigi sulung  posterior adalah luksasi perlahan ke dalam kearah  labio-palatal atau labio lingual, diikuti dengan gerakan ekstraksi.
11.  Pemberian tampon pada daerah pencabutan
12.  Berikan istruksi pasca pencabutan gigi
13.  Mencuci tangan dengan sabun
14.  Petugas membuat dan menyelengarakan resep berupa antibiotik ( jika perlu) dan anti nyeri



F.     Program Upaya Kesehatan Gigi Sekolah

Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) adalah upaya kesehatan masyarakat yang ditujukan untuk memelihara, meningkatkan kesehatan gigi dan mulut seluruh peserta didik di sekolah binaan yang ditunjang dengan upaya kesehatan perorangan berupa upaya kuratif bagi individu (peserta didik) yang memerlukan perawatan kesehatan gigi dan mulut. Upaya Kesehatan Masyarakat pada UKGS berupa kegiatan yang terencana, terarah dan berkesinambungan.
Program UKGS Di wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Agung sudah berjalan namun belum optimal masih sangat perlu dilakukan perbaikan dalam program tersebut. Kegiatan UKGS yang dilakukan hanya sebatas penjaringan siswa sekolah dasar yang baru masuk sekolah masih belum dilakukan secara menyeluruh.
Pengoptimal program UKGS bias di lakukan dengan melakukan upaya-upaya agar pembuat keputusan mempercayai dan meyakini program UKGS perlu di dukung, Kemudian petugas keshatan juga bisa menjalin kemitraan dengan berbagai sector seperti guru kelas. Selain itu juga daapat memberikan dorongan kepada masyarakat agar mereka mempu memelihara dan meningkatkan kesehatan gigi dan mulut mereka.



BAB 1V
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Persistensi gigi merupakan masalah yang sekarang cukup sering ditemui, terutama di usia ketika anak duduk di bangku sekolah dasar. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi orang tua karena jika dibiarkan dapat menjadi penyebab gigi berjejal, di mana gigi tetap akan tumbuh di tempat yang tidak seharusnya, bisa di depan atau di belakang gigi susunya. . Gigi pertama biasanya muncul sekitar 6 tahun, oleh karena itu paling baik jika gigi susu sudah tanggal (copot dari gigi) ketika gigi tetap penggantinya sudah teraba atau terlihat dan peran aktif orang tua sangat dibutuhkan dalam perawatan gigi anak.

B.     Saran

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritikan maupun saran yang membangun dari Dosen, teman-teman maupun para pembaca agar pada penyusunan makalah selanjutnta mendekati kesempurnaan.











DAFTAR PUSTAKA

Riset Kesehatan Dasar 2013. www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf. online pada Agustus 2019

Riset Kesehatan Dasar 2019
www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/hasil-riskesdas-2019.pdf
online pada Agustus 2019

Siti Sulastri dkk 2014: Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua Tentang Jadwal Pertumbuhan Ggigi Dengan Kejadian Persistensi Gigi Anak 6-10 Tahun di SD N Wojo I Bantul http://ejurnal.poltekkesjogja.ac.id. online pada Seeptember 2019

Dwi Nur Rakhman dkk 2012 : Gambaran Karakteristik dan Penyebab Pencabutan Gigi Sulung Di Puskesmas Paniki Bawah Kota Manado Tahun 2012 http://ejurnal.unsart.ac.id. online pada Seeptember 2019


Made Ayu Lely Suratri,dkk 2014: Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Orang Tua tentang Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak Usia Taman Kanak-kanak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Banten Tahun 2014
http://ejournal.litbang.depkes.go.id. online pada Seeptember 2019









Tidak ada komentar:

Posting Komentar